Peningkatan Pemahaman Nilai Peninggalan Sejarah Situs Gondang Melalui Pendekatan Karya Wisata Siswa Kelas IV SD Muhammadiyah Branjang Karangmojo Gunungkidul: Pendahuluan

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Identifikasi Masalah

Pemahaman nilai peninggalan sejarah sangatlah dibutuhkan oleh para siswa. Pengertian pemahaman menurut Purwanto (dalam: megasiana.com/pedulipendidikan/pemahaman-siswa-dalam-proses-belajar/, diakses tanggal 7 September 2014 ) adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Sedangkan menurut Suharsimi (dalam: megasiana.com/pedulipendidikan/pemahaman-siswa-dalam-proses-belajar/, diakses tanggal 7 September 2014 ) menyatakan bahwa pemahaman (comprehension) adalah bagaimana seorang mempertahankan, membedakan, menduga( estimates), menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan memberikan contoh, menuliskan kembali dan memperkirakan.

Peninggalan sejarah memiliki nilai yang sangat tinggi bagi suatu negara. Melalui peninggalan bersejarah inilah, para generasi muda, penerus bangsa, bisa menyaksikan bukti peradaban yang tinggi dan pernah mewarnai perjalanan sejarah bangsa. Peninggalan sejarah ( dalam: serbasejarah.wordpress.com/2013/07/09/warisan-sejarah/, diakses tanggal 7 September 2014 ) merupakan warisan yang berdaya guna bagi generasi manusia selanjutnya

Sayangnya peninggalan sejarah tersebut terkadang tidak terawat, dicuri, dijual dan rusak. Hal ini menunjukkan rendahnya kesadaran warga negara terhadap nilai peninggalan sejarah. Ketika menyaksikan berita bahwa ada pencurian dan penjualan aset peninggalan sejarah bangsa, maka banyak yang mempertanyakan mengapa hal itu terjadi. Apakah pengelolaan yang tidak baik ataukah karena kesadaran dari sumber daya manusia yang masih rendah. Oleh karenanya, dalam usia yang masih belia, anak kelas IV SD khususnya, perlu dikenalkan contoh peninggalan sejarah di lingkungan sekitarnya serta pelestariannya. Tujuannya agar kelak ketika sudah dewasa mereka tidak terjebak dengan perbuatan yang merugikan pelestarian peninggalan sejarah.

Dalam pembelajaran pun pemahaman akan nilai peninggalan sejarah masih rendah. Ketika membaca teks pada Buku Siswa tentang Situs Trowulan ( Kemendikbud, 2014: 61), para siswa SD Muhammadiyah Branjang yang sudah bisa memahami dengan baik dengan nilai B- baru 27% dari 18 siswa. Sedangkan 73% dari 18 siswa kebanyakan mendapatkan nilai C. Mereka menemukan jawaban dengan mudah hanya pada pertanyaan nomor 1 dan 3. Sedangkan pada nomor 2, 4 dan 5 para siswa agak kesulitan menjawabnya karena memang materi pertanyaan tidak akan ditemukan dalam bacaan teks secara teksbook.

Pertanyaan selengkapnya dalam buku Siswa kelas IV, adalah sebagai berikut :

Pertanyaan- pertanyaan : (1) Di manakah letak Trowulan ? Apa saja yang ada di sana ?, (2) Hal penting apa yang kamu temukan dalam teks tersebut?, (3) Apakah pembangunan situs Trowulan bisa dikerjakan oleh satu orang saja? Jelaskan alasanmu.!, (4) Bagaimana cara kamu menghargai peninggalan sejarah?, (5) Apa manfaat menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah? ( Kemendikbud, 2014: 62)

Dari jawaban para siswa maka peneliti mengubah cara pembelajaran karena jika pembelajaran hanya terpaku pada panduan pada Buku Guru maka para siswa akan kesulitan menjawab pertanyaan cara menghargai peninggalan sejarah dan manfaat menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah. Padahal hal ini sangat penting bagi generasi muda agar bisa paham dan seterusnya bisa ikut menjaga kelestarian peninggalan sejarah karena mengingat manfaat dari peninggalan tersebut. Apalagi jika dibandingkan dengan nilai ketuntasan minimal yang ditentukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih sangat jauh dari standar.

Melihat kurangnya pemahaman nilai peninggalan sejarah maka peneliti harus kreatif dalam menyampaikan materi pelajaran yang tertuang dalam kurikulum. Peneliti dapat memanfaatkan peninggalan sejarah yang ada di sekitar sekolah yaitu dengan studi wisata ke situs- situs bersejarah terdekat. Sejarah menurut Anggar Kaswati (dalam: http://sejarah-sman1-tmg.blogspot.com/2013/03/pembelajaran-sejarah-dengan-metode.html, diakses tanggal 30 Agustus 2014 ) adalah rekonstruksi masa lalu dan apa yang direkonstruksikan adalah apa saja yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan dan dialami oleh manusia. Untuk merekonstruksi sejarah, langkah yang paling mudah dan tidak membutuhkan dana yang banyak adalah karya wisata di lokasi terdekat dengan sekolah, yaitu Situs Gondang yang berjarak sekitar 2 km dari sekolah.

Analisis Masalah

Ada ungkapan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan, atau menghargai sejarah bangsa. Atau bila mengutip pidato Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno, beliau mengungkapkan jasmerah atau jangan sekali- kali melupakan sejarah dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-21, tanggal 17 Agustus 1966.

Menurut AH Nasution, Jasmerah adalah judul yang diberikan oleh Kesatuan Aksi terhadap pidato Presiden, bukan judul yang diberikan Bung Karno. Presiden memberi judul pidato itu dengan Karno mempertahankan garis politiknya yang berlaku “Jangan sekali- kali Melupakan Sejarah”. (dalam: http://id.wikipedia.org/wiki/Jangan_Sekali-kali_Meninggalkan_Sejarah, diakses tanggal 30 Oktober 2014)

Dalam kenyataannya para siswa sulit memahami nilai- nilai peninggalan sejarah yang dimiliki bangsa Indonesia. Hal ini cukup memprihatinkan dan membutuhkan solusi atau penyelesaian agar para generasi muda bisa memahami sejarah bangsa. Jangan sampai ketidakpahaman terhadap nilai sejarah menyebabkan kerugian negara. Tentunya kita tidak ingin mendengar lagi ada berita tentang hilangnya peninggalan sejarah/ warisan sejarah bangsa. Untuk itu sejak anak- anak generasi harus dibekali dengan penting dan manfaat dari peninggalan sejarah tersebut melalui karya wisata di situs- situs sejarah yang dekat dengan lingkungan sekolah atau lingkungan rumah.

Yang perlu diingat ketika mengajarkan sejarah, adalah guru memahami tugas sejarah itu sendiri, bagaimana guru menciptakan pembelajaran yang efektif dan baik agar pembelajaran terkesan hidup dan tidak membosankan. Tugas sejarah ( dalam: serbasejarah.wordpress.com/2013/07/09/warisan-sejarah/, diakses tanggal 7 September 2014 ) bukan hanya sekedar “mengadili masa lalu” akan tetapi harus bisa “mengajar bagi masa kini, untuk masa depan”. Agar pembelajaran di sekolah, termasuk pembelajaran sejarah, Setyosari ( Setyosari dalam : http://sejarah-sman1tmg.blogspot.com/2013/03/pembelajaran-sejarah-dengan-metode.html, diakses tanggal 30 Agustus 2014 ) berpendapat bahwa penggunaan media pembelajaran merupakan bagian yang sangat menentukan dalam efektifitas dan efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran.

Ketika peneliti mengikuti langkah- langkah dalam Buku Guru, ternyata para siswa belum dapat memahami sepenuhnya tentang nilai- nilai sejarah dan pelestarian peninggalan sejarah. Hal ini ditambah dengan cakupan materi di Buku Siswa tidak detail. Siswa dituntut mencari sendiri informasi tentang nilai peninggalan sejarah, padahal sarana dan prasarana di sekolah kurang memadahi.

Banyak pendekatan yang dapat ditempuh peneliti dalam usaha perbaikan pemahaman nilai peninggalan sejarah. Pertama, pendekatan keluarga. Sejarah memiliki konsep dasar waktu, Rochiati ( dalam Sardjiyo, dkk, 2010: 2.14) menganjurkan cara pendekatan melalui pendekatan keluarga. Dengan menggunakan pendekatan ini para siswa akan mudah dalam memahami konsep waktu tentang masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Kedua, pendekatan diskusi. Ketiga, pendekatan jigsaw. Keempat, pendekatan kolaboratif. Kelima, pendekatan karya wisata.

Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah

Untuk mencapai keberhasilan pembelajaran banyak sekali metode yang dapat diterapkan. Terdapat dua pandangan filosofi yang digunakan para guru dalam mengembangkan metode pembelajaran, yaitu behaviorisme dan konstruktivisme.

Melihat ciri yang dicapai anak usia Sekolah Dasar maka untuk meningkatkan pemahaman nilai peninggalan sejarah di Indonesia peneliti mengajak siswa belajar secara langsung di situs peninggalan sejarah yang letaknya tidak jauh dari sekolah melalui karya wisata. Karyawisata adalah kunjungan ke suatu tempat atau objek dalam rangka memperluas pengetahuan dalam hubungan dengan pekerjaan seseorang atau sekelompok orang. Menurut Sri Anitah ( dalam: gurukelas.com/2011/07/metode-karyawisata-field-trip.html,, diakses tanggal 24 Agustus 2013) menyatakan bahwa metode karyawisata hampir sama dengan pembelajaran outdoor yaitu aktivitas pembelajaran sama-sama dilaksanakan di luar kelas.

Menurut pendapat Roestinah teknik karya wisata ini digunakan karena memiliki tujuan sebagai berikut :

Dengan melaksanakan karya wisata diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya, dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang serta dapat bertanyajawab mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran ataupun pengetahuan umum. ( Roestinah dalam: http://65nurulhidayat.blogspot.com/2014/01/metode-pembelajaran.html, diakses tanggal 7 September 2014 )

Karya wisata memiliki kelebihan dan kelemahan ketika digunakan sebagai metode pembelajaran materi sejarah. Selain membutuhkan waktu yang lama, tidak jarang pula karya wisata membutuhkan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu dalam berkarya wisata, peneliti hendaknya memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengajak dan menghubungkan materi pelajaran dengan peninggalan sejarah yang akan digunakan untuk karya wisata. Tujuannya agar materi pelajaran bisa ditangkap oleh siswa dengan mudah dan penyampaian nilai- nilai peninggalan sejarah akan lebih mudah diingat oleh siswa karena mereka melihat secara langsung wujud peninggalan sejarah tersebut.

Dalam mengatasi kelemahan metode karya wisata peneliti mengambil waktu pelaksanaan pembelajaran siklus kedua pada sore. Selain itu, peneliti akan memberikan bimbingan dan pengawasan terhadap kreativitas siswa, mengambil lokasi peninggalan sejarah terdekat yang berjarak kurang lebih 2 km dari sekolah, yaitu di Situs Gondang. Situs ini beralamat di Gondang Ngawis Karangmojo Gunungkidul. Sementara itu pada kelemahan nomor 4 peneliti tidak melihat unsur rekreasi yang terlalu menonjol.

Rumusan Masalah

Berdasar latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalahnya sebagai berikut : Bagaimanakah peningkatan pemahaman nilai Peninggalan Sejarah Situs Gondang melalui metode karya wisata siswa kelas IV SD Muhammadiyah Branjang Karangmojo Gunungkidul ?

Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah menguji manfaat karya wisata di Situs Gondang dalam meningkatkan pemahaman terhadap nilai peninggalan sejarah kelas IV SD Muhammadiyah Branjang Karangmojo Gunungkidul.

Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran

  1. Bagi Siswa

  • Siswa lebih senang mempelajari Sejarah Bangsa Indonesia
  • Siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajar
  • Siswa bisa berinteraksi dengan teman dan guru
  • Prestasi belajar meningkat
  • Pemahaman siswa terhadap nilai peninggalan sejarah semakin meningkat
  • Siswa dapat menghargai nilai peninggalan sejarah Indonesia
  • Meningkatkan kepedulian siswa terhadap pelestarian peninggalan sejarah di sekitarnya.

    2. Bagi Guru

  • Meningkatkan keterampilan dalam mengelola kelas
  • Meningkatkan keterampilan dalam inovasi pembelajaran
  • Meningkatkan ilmu pengetahuannya
  • Meningkatkan kemampuan menulis karya ilmiah/ penelitian.

    3. Bagi Kepala Sekolah

  • Mengetahui kreatifitas dan prestasi guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas
  • Mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam proses belajar mengajar Tematik kelas IV SD Muhammadiyah Branjang pada umumnya, dan mengetahui tingkat pemahaman siswa akan nilai peninggalan sejarah pada khususnya.

    4. Bagi Peneliti yang lain

  • Memberikan masukan- masukan kepada peneliti yang lain mengenai tepat guna metode yang digunakan dalam pembelajaran tematik pada muatan IPS kelas IV untuk mencapai pemahaman nilai peninggalan sejarah.
  • Menguji ketepatan kesimpulan penelitian ini melalui penelitian lanjutan.
  • catatan :
  • Karya ilmiah ini telah saya unggah pada aplikasi Karya Ilmiah UT pada tahun 2014 sebagai tugas mata kuliah PKP dan Karya Ilmiah dengan bimbingan Drs. Wisnu Giyono, M. Pd.

Abstrak Karilku di UT tahun 2014

Saat ini saya ketengahkan Abstrak dari karya ilmiah dan PKP yang telah saya unggah di UT Pusat pada tahun 2014 yang lalu. Namun karya ilmiah atau PKP yang lengkap belum dapat saya sajikan pada blos ini. Abstrak saya ini juga saya posting di zahrotulmujahidah.blogspot.com.

PENINGKATAN PEMAHAMAN NILAI PENINGGALAN SEJARAH

SITUS GONDANG MELALUI PENDEKATAN KARYA WISATA

SISWA KELAS IV SD MUHAMMADIYAH BRANJANG KARANGMOJO GUNUNGKIDUL

Oleh :

Zahrotul Mujahidah

822429432

jora5074@gmail.com

ABSTRAK

Pemahaman siswa kelas IV SD Muhammadiyah Branjang terhadap nilai peninggalan sejarah sangat memprihatinkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil capaian siswa ketika mengerjakan soal yang berkaitan dengan peninggalan sejarah Trowulan. Dari 18 siswa yang nilainya di atas KKM adalah 5 siswa. KKM yang ditentukan dalam Kurikulum 2013 adalah 66-70. Untuk mengatasi kurangnya pemahaman nilai peninggalan sejarah siswa kelas IV SD Muhammadiyah Branjang Karangmojo Gunungkidul maka peneliti melakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan karya wisata di Situs Gondang.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dan kualitatif. Metode pengumpulan data yang menggunakan observasi tes. Penelitian ini dilaksanakan di SD Muhammadiyah Branjang Karangmojo Gunungkidul dengan subjek siswa kelas IV yang berjumlah 18 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan dibantu oleh Ibu Inti Sukawati, S.Pd.I selaku teman sejawat. Siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu, 23 Agustus 2014 dengan pencapaian nilai di atas KKM adalah 33% dari seluruh siswa. Sedangkan penelitian Siklus II dilaksanakan pada hari Senin, 25 Agustus 2014.

Hasil perolehan nilai siswa yang di atas KKM pada siklus kedua meningkat menjadi 94% dari seluruh siswa. Melihat hasil perolehan nilai pada dua siklus tersebut, peneliti mengambil kesimpulan bahwa pemahaman siswa kelas IV SD Muhammadiyah Branjang meningkat melalui pendekatan karya wisata di Situs Gondang Karangmojo Gunungkidul.

Peneliti memberikan saran agar guru sebaiknya lebih banyak menerapkan pendekatan karya wisata peninggalan sejarah di sekitar untuk materi yang berkaitan dengan materi sejarah. Selain itu, peneliti juga memberikan saran kepada siswa lebih peka terhadap peninggalan sejarah yang ada di sekitar sekolah maupun lingkup daerah lain.

Kata kunci : pemahaman, peninggalan sejarah, karya wisata