Mata Pelajaran Sejarah Sekitar tahun 1950-an dan 1960-an

Mata pelajaran sejarah sekitar tahun 1950-an

Secara nasional, masalah kurikulum sejarah diangkat ke permukaan untuk pertama kalinya dalam Seminar Sejarah I di Yogyakarta, khususnya di UGM, tanggal 14- 18 Desember 1957. Pada masa itu IKIP belumlah terbentuk karena masih merupakan IKIP di suatu universitas. Pada seminar itu dibahas beberapa tema antara lain syarat- syarat mengarang kitab sejarah Indonesia yang bercorak nasional, peihal pelajaran sejarah nasional di sekolah- sekolah dan pendidikan ahli sejarah.

Tujuan kurikulum sejarah tahun 1950-an adalah:
1. Mendidik dan menghasilkan ahli sejarah sesuai dengan spesialisasi.
2. Mendidik calon ahli sejarah yang bewawasan sudut pandang Indonesia.

Tahun 1950-an kurikulum studi sejarah memang cukup mengalami perkembangan yang berarti. Hal ini ditunujkkan dengan :
1. Lebih otonom dalam penyusunannya sesuai dengan usul dan rencana perguruan tinggi maisng- masing.
2. Ada kesamaan antar sejumlah materi mata kuliah di UI, UGM dan UNPAD karena factor sama pengampunya.
3. Dampak pasca revolusi dan ketegangan suhu politik terasa pada kekurangmantapan system kurikulum.
4. Pengaruh kurikulum pendidikan tinggi colonial masih kuat sehingga masa transisi penyususnan kurikulum menjadi lama.
5. Soft-ware yakni perpustakaan masih cukup langka sehingga ketergantungan materi mahasisw pada dosen sangat jelas.
6. Kekurangan tenaga dosen mendorong system asistensi oleh mahasiswa yang pandai.

Mata pelajaran sejarah sekitar tahun 1960-an

Ciri- ciri kurikulum pengajaran sejarah pada tahun 1960-an adalah :
1. Lebih praktis untuk menciptakan kesadaran sejarah
2. Bagan studi lebih rasional
3. Masih terasa system liberal dalam pendidikan tinggi

Pada decade ini sudut pandang Belanda sentries masih sangat terasa. Hal ini tidak dapat diungkiri karena memang penjajah telah menanamkan pengaruhnya yang begitu kuat dan waktu yang sangat lama. Selain itu sumber- sumber sejarah yang ada masih bersifat Belanda sentries. Sangat sulit menemukan sumber- sumber sejarah yang lepas dari pengaruh Belanda.

Ada dua hal yang menarik pada decade ini antara lain bahwa sebagian besar mata kuliah di universitas sama dengan mata kuliah di jurusan sjarah keguruan. Padahal jika dilihat esensinya maka ada perbedaan antara universitas dan keguruan. Jika pada universitas yang dipelajari adalah ilmu murni sejarah, sedangkan di sejarah keguruan merupakan suatu ilmu terapan dalam rangka perkembangan peserta didik.

Kendala yang dihadapi Indonesia adalah kekurangan staf pengajar. Pengajar di universitas juga merupakan pengajar di keguruan. Hasilnya lahirlah sejarawan dan peneliti sekaligus.
Kurikulum sejarah dari masa ke masa terus mengalami perubahan. Namun pada setiap perubahan nampaknya nasib sejarah kurang beruntung. Mulai dari penggabungan sejarah dengan kewarganegaraan, lalu pengintegrasian yang tidak integrative sejarah ke dalam IPS. Kemudian keterpaduannya dalam ujian nasional ( EBTANAS ) sehingga tidak muncul ujian sejarah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s