Genosida di Palestina

Ketika Idul Fitri tiba, para muslim di dunia merayakan dengan penuh kebahagiaan. Tetapi tidak di Palestina. Rakyat Palestina merayakan Idul Fitri di tengah situasi agresi yang dilancarkan oleh Israel. Kekejaman Israel terhadap rakyat sipil, baik anak- anak, wanita, dan manula mengakibatkan bayak reaksi anti Israel, dan bahkan ada yang berani mengatakan Israel adalah negara teroris.

Pada hari kedua Idul Fitri 1435 H, Lebih dari 100 orang syuhada korban pembantain tentara Zionis, hari ini, Selasa, 29/07/2014, sampai ke rumah sakit-rumah sakit di Jalur Gaza. Penyerangan beruntun yang dilakukan militer Zionis secara brutal ini menambah jumlah korban rakyat Palestina di Gaza. Asyaraf Al Qudrah, jubir Kementrian kesehatan menyampaikan, 1156 yang syahid dan sebanyak 6700 luka- luka.

Sementara data tanggal 1 Agustus, hari ke- 28, sampai pukul 05.34, Dinkes Gaza merilis jumlah korban agresi Zionis 1362 syahid dan 7677 luka- luka. Sejak agresi pertama tersebut dapat dilihat rinciannya, yaitu 315 anak-anak, 166 wanita dan 58 manula yang gugur. Serta 2307 anak- anak, 1529 wanita dan 287 orangtua yang mengalami luka- luka.
genosida1

Astronot Jerman Alexander Gerst kemarin meng-upload foto ke Twitter. Keterangan Nya berbunyi: “pemandangan yg paling membuat saya sedih: dari luar angkasa ini, kita melihat ledakan roket yg terjadi di #Gaza
genosida2

Reaksi atas Genosida di Palestina
Di Maladewa. Para wisatawan Israel dievakuasi dari pulau wisata Maladewa setelah seorang warga Israel merusak sebuah spanduk yang menyamakan bendera Israel dengan lambang swastika Nazi. Demikian Pemerintah Maladewa, Rabu (30/7/2014).Akibat perusakan itu, warga Pulau Thulusdloo, tak jauh dari ibu kota Male, menggelar unjuk rasa sehingga sebanyak 30 turis Israel terpaksa dievakuasi dari pulau tersebut.

Pejabat di kantor presiden Maladewa, Mohamed Shareef, mengatakan, proses evakuasi turis Israel itu dilakukan untuk keselamatan mereka sendiri. “Potensi insiden buruk terhadap mereka sangat besar sehingga kami harus mengevakuasi para turis itu,” ujar Shareef. Shareef mengatakan, Pemerintah Maladewa tidak melarang warga Israel memasuki kepulauan itu, meski mengakui negeri itu menentang aksi kekerasan Israel di Gaza.

“Kami tidak melarang mereka datang. Namun, turis Israel harus ingat mereka mengunjungi sebuah negara dengan penduduk 100 persen Muslim. Dan kami mendukung Palestina tanpa syarat,” ujar Shareef. Shareef melanjutkan, Pemerintah Maladewa telah mengambil sejumlah langkah untuk menunjukkan sikap mereka terhadap Israel. Salah satunya, Pemerintah Maladewa telah menerapkan larangan terhadap barang-barang buatan Israel serta membatalkan tiga kerja sama dengan Israel di bidang kesehatan, pariwisata, dan pendidikan. “Impor dari Israel sangat kecil, tetapi kami melarang impor sebagai sebuah langkah penentangan kami terhadap aksi Israel,” tambah Shareef.

Sementara tiga kerja sama yang dibatalkan itu sebelumnya diteken pada 2009 oleh pemerintahan lama. Sejauh ini, ketiga kesepakatan itu masih berbentuk dokumen dan belum diimplementasikan. Maladewa, yang dikenal dengan pantainya yang indah dan pulau-pulau karangnya yang tersembunyi, menarik jutaan wisatawan setiap tahun, tetapi hanya sekitar satu persen yang datang dari Israel.

Di Bolivia. Presiden Bolivia, Evo Morales tegas menyatakan Israel sebagai ‘negara teroris.’ Pernyataan itu muncul karena Israel tak henti-hentinya menggempur warga Palestina yang bermukim di Jalur Gaza. Dua minggu lebih berlalu, serangan brutal Israel menewaskan lebih dari 1.300 jiwa warga Palestina dan 6.000 lebih luka-luka.

Seperti dilansir http://www.usatoday.com, pernyataan Presiden Morales itu berujung kebijakan imigrasi. Warga Israel yang hendak masuk Bolivia wajib menunjukkan visa. Padahal, perjanjian 1972 menghasilkan warga Israel bebas bepergian ke Bolivia tanpa menggunakan visa. Kini, Bolivia mengkategorikan Israel sebagai negara “Kelompok Tiga”. Artinya, pengajuan visa warga Israel harus melalui Administrasi Imigrasi Nasional. “Dengan kata lain kita menyatakan, Israel sebagai negara teroris,”tegas Morales. “Israel tidak menghormati prinsip-prinsip atau tujuan dari piagam PBB maupun Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.”

Morales juga menyebut dirinya pengagum mendiang Presiden Venezuela, Hugo Chavez’, yang memutuskan hubungan diplomatik dengan negara Yahudi pada tahun 2009. “Dan dia (Chavez) telah meninggalkan Israel dan menyebutnya sebuah pembunuhan massal,” tambah Morales. Amerika Selatan sering merupakan tujuan populer bagi para pemuda Israel. Sebut saja, Brazil, Chili, Ekuador, dan Peru, telah mengingat duta besar mereka dari Israel sebagai protes atas pertempuran Gaza.

Sumber bacaan : fp Komite Nasional untuk Rakyat Palestina dan http://www.dream.co.id/news/bolivia-deklarasi-israel-sebagai-negara-teroris-140731k.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s