Sejarah Perseteruan Palestina dan Israel ( bag 3 )

15 November 1988. Pada tanggal ini berdirinya negara Palestina diumumkan di Aljiria, ibukota Aljazair. Bentuk negara Palestina adalah Republik Parlementer dan Yerusalem Timur ditetapkan sebagai ibukota negara Palestina dengan Yasser Arafat sebagai presiden pertamanya. Setelah Yasser Arafat meninggal, jabatan presiden diduduki oleh Mahmud Abbas. Dewan Nasional Palestina ( Paremen Paestina ) beranggotakan 500 orang.

Desember 1988. AS membenarkan pembukaan dialog dengan PLO setelah Arafat secara tidak langsung mengakui eksistensi Israel dengan menuntut realisasi resolusi PBB nomor 242 pada waktu memproklamirkan Republik Palestina di pengasingan di Tunis.

Maret 1991. Yasser Arafat menikahi Suha, seorang wanita Kristen. Sebelumnya Arafat selalu mengatakan “ menikah dengan revolusi Palestina”.

September 1993. PLO- Israel saing mengakui eksistensi masing- masing dan Israel berjanji memberikan hak otonomi kepada PLO di daerah pendudukan. Motto Israel adalah “land for peace”(tanah untuk perdamaian). Pengakuan itu dikecam keras oleh pihak ultra-kanan Israel maupun kelompok di Palestina yang tidak setuju. Namun negara- negara Arab( Saudi Araba, Mesir, Emirat dan Yordania) menyambut baik perjanjian itu. Mufti Mesir dan Saudi mengeluarkan fatwa untuk mendukung perdamaian.
Setelah kekuasaan di daerah pendudukan dialihkan ke PLO maka sesuai perjanjian dengan Israel, PLO harus mengatasi segala aksi anti Israel. Dengan ini maka sebenarnya PLO dijadikan perpanjangan tangan Yahudi. Yasser Arafat, Yitzak Rabin dan Shimon Peres mendapat Nobel Perdamaian atas usahanya tersebut.

1995. Rabin dibunuh oleh Yigar Amir, seorang Yahudi fanatic. Sebelumnya, di Hebron, seorang Yahudi fanatic membantai puluhan puluhan muslim yang sedang shalat subuh. Hamper setiap orang dewasa di Israel, laki- laki maupun wanita, pernah mendapat latihan dan melakukan wajib militer. Gerakan Palestina yang menuntut kemerdekaan total menteror ke tengah masyarakat Israel dengan bom “bunuh diri”. Targetnya adalah menggagalkan usaha perdamaian yang tidak adil itu. Sebenarnya “and for peace” diartikan Israel sebagai “Israel dapat tanah dan Arab palestina tidak diganggu( bisa hidup damai).”

1996. Pemilu di Israel dimenangkan secara tipis oleh Netanyahu dari partai kanan, yang berarti kemenangan Yahudi yang anti perdamaian. Netanyahu mengulur- ulur waktu peaksanaan perjanjian perdamaian. Ia menolak adanya negara Palestina, agar Palestina tetap sekedar daerah otonom di dalam Israel. Ia bahkan ingin menunggu/ menciptakan konteasi baru (pemukiman Yahudi di daerah pendudukan. Bila perlu perluasan hingga ke Syria dan Yordania untuk membuat perjanjian baru.
AS tidak senang bila Israel berjalan sendiri di luar garis yang ditetapkan. Namun karena obi Yahudi di AS terlau kuat maka Bill Clinton harus memakai agen- agennya di negara- negara Arab untuk “mengingatkan” di “anak emasnya” ini. Maka sikap negara- negara Arab tiba- tiba kembali memusuhi Israel. Mufti Mesir kemudian memfatwakan jihad terhadap Israel. Sementara itu Uni Eropa (terutama Inggris dan Perancis) juga mencoba “aktif” menjadi penengah, yang sebenarnya juga hanya untuk kepentingan masing- masing dalam rangka menanamkan pengaruhnya di wilayah itu. Mereka juga tidak rela jika AS “jalan sendiri “ tanpa bicara dengan Eropa.

2002- 2006. Sebuah usul perdamaian diajukan Empat Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan AS pada 17 September 2002. Israel juga telah menerima peta itu namun dengan 14 “reservasi”. Pada waktu itu Israe sedang menerapkan sebuah rebcana pemisahan diri yang kontroversia yang diajukan oleh PM Ariel Sharon Sharon.
Menurut rencana yang dijaukan kepada AS, Israel menyatakan bahwa ia akan menyingkirkan seluruh “kehadiran sipi dan militer yang permanen” di Jalur Gaza, yaitu 21 pemukiman Yahudi di Jalur Gaza dan 4 pemukiman di Tepi Barat, namun akan “mengawasi dan mengawal kantong- kantong eksternal di darat, akan mempertahankan control eksklusif di wilayah udara Gaza, dan akan terus melakukan kegiatan miter di wilayah laut dari Jalur Gaza.”
Pemerintah Israel berpendapat bahwa “akibatnya tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur Gaza adalah wilayah pendudukan,” sementara yang lain berpendapat bahwa apabila pemisahan siri itu terjadi, akibat satu- satunya ialah bahwa Israel “akan diizinkan untuk menyelesaikan tembok, artinya penghalang Tepi Barat Israel dan mempertahankan situasi di Tepi Barat.”
Di hari kemenangan Partai Kadima pada pemilu tanggal 28 Maret 2006 di Israel, Ehud Olmert, yang kemudian diangkat menjadi PM Israel menggantikan Ariel Sharon yang berhalangan karena sakit, untuk berpidato. Dalam pidato kemenagngan partainya, Olmert berjanji untuk menjadikan Israel negara yang adil, kuat, damai dan makmur, menghargai hak- hak kaum minoritas, mementingkan pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan serta yang terutama berjuang untuk mencapai perdamaian yang kekal dan pasti dengan bangsa Palestina. Olmert menyatakan bahwa sebagaimana Israel bersedia berkompromi untuk perdamaian, ia mengharapkan bangsa Palestina pun harus fleksibel dengan posisi mereka. Ia menyatakan bahwa bila Otoritas Palestina, yang dipimpin Hamas, menolak mengakui negara Israel maka Israel akan menentukan nasibnya di tangannya sendiri dan secara langsung menyiratkan aksi sepihak. Masa depan pemerintahan koalisi ini sebagian besar tergantung pada niat baik partai- partai lain untuk bekerjasama dengan PM yang baru terpilih.

Sumber bacaan :
islamislogic.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s