Sejarah Perseteruan Palestina dan Israel ( bag 2 )

1838 M. Inggris membuka konsulat di Yerusalem yang merupakan perwakilan Eropa yang pertama di Palestina.
1849 M. Kampanye mendorong imigrasi orang yahudi ke Palestina. Pada masa itu jumlah Yahudi di Palestina baru sekitar 12.000 orang. Pada tahun 1948 jumlahnya menjadi 716.700 dan pada tahun 1964 sudah hamper 3 juta orang.
1882 M. Imigrasi besar- besaran orang Yahudi ke Palestina yang berselubung agama, simpati dan kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu.
1891 M. Para penduduk Palestina mengirim petisi ke Khalifah, menuntut dilarangnya imigrasi besar- besaran ras Yahudi ke Palestina. Sayangnya saat itu khilafah sudah “sakit- sakitan” sehingga dijuluki “ the sick man at Bosporus “. Dekadensi pemikiran meluas, walau Sultan Abdul Hamid sempat membuat terobosan dengan memodernisir infrastruktur, termasuk memasang jalur kereta api dari Damaskus ke Madinah melewati Palestina. Tetapi sebelum pemasangan jalur kereta api tersebut, Sultan Abdul Hamid dipecat oleh Syaikhul Islam ( Hakim Agung ) yang telah dipengaruhi Inggris. Perang Dunia meletus, dan jalur kereta itu dihancurkan.
1897 M. Theodore Herzl menggelar kongres Zionis sedunia di Basel, Swiss. Peserta Kongres I Zionis mengeluarkan resolusi bahwa umat Yahudi tidaklah sekedar umat beragama, namun adalah bangsa dengan tekad bulat untuk hidup secara berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi tersebut, kaum Zionis menuntut tanah air bagi umat Yahudi pada “tanah yang bersejarah bagi mereka, walaupun secara rahasia. Sebelumnya Inggris hamper menjanjikan tanah protektorat Uganda atau di Amerika Latin. Dalam kongres itu Herzl menyebut Zionis adalah jawaban bagi diskriminasi dan penindasan atas umat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun.
Pergerakan ini mengenang kembali bahwa nasib umat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan umat Yahudi sendiri. Di depan kongres, Herzl berkata, “ dalam 50 tahun aka nada negara Yahudi. Dan yang direncanakan Herzl menjadi kenyataan pada tahun 1948.
1916 M. Perjanjian rahasia Sykes- Picot oleh sekutu ( Inggris, perancis, Rusia ) dibuat saat meletusnya Perang Dunia I, yang mencengkeram wilayah- wilayah Arab dan Khalifah Utsmaniyah dan membagi- bagi di antara mereka. Perang Dunia I berakhir dengan kemenangan sekutu, Inggris mendapat control atas Palestina. Pada Perang Dunia I ini Yahudi berkomplot dengan sekutu untuk tujuan mereka sendiri, yaitu memiliki pengaruh yang lebih besar.
1917 M. Menlu Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfoour memberitahu pemimpin zionis Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemutihan Yahudi di Palestina dalam membantu pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun kemudian Liga Bangsa- bangsa, yang merupakan cikal bakal PBB member mandat kepada Inggris untuk menguasai Palestina.
1938 M. Nazi Jerman menganggap bahwa pengkhianatan Yahudi Jerman adalah biang keladi kekalahan mereka pada Perang Dunia I yang telah mengahancurkan ekonomi Jerman. Sehingga mereka perlu “penyelesaian terakhir (endivsung )”.
Ratusan ribu keturunan Yahudi dikirim ke kamp konsentrasi atau lari ke luar negeri, terutama ke AS. Sebenarnya ada etnis lain serta kaum intelektual yang berbeda politik dengan Nazi yang bernasib sama, namun setelah Perang Dunia II Yahudi lebih berhasil menjual ceritanya karena menguasai banyak surat kabar atau kantor- kantor berita di dunia.
1944 M. Partai buruh Inggris yang sedang berkuasa secara terbuka memaparkan politik yang “membiarkan orang- orang yahudi terus masuk ke Palestina, jika mereka ingin menjadi mayoritas. Masuknya mereka akan mendorong keluarnya pribumi Arab dari sana”. Akibatnya kondisi Palestina memanas.
1947 M. PBB merekomendasikan pemecahan Palestina menjadi dua negara Yaitu Arab dan Israel.
14 Mei 1948. Sehari sebelum habisnya perwalian Inggris di palestina, para pemukim Yahudi memproklamirkan kemerdekaan negara Israel. Mereka melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat palestina yang masih lemah, hingga jutaan dari mereka terpaksa mengungsi ke Libanon, Yordania, Syria, Mesir, dll. Palestina Refugees menjadi tema dunia. Namun mereka menolak eksistensi Palestina dan menganggap mereka telah memajukan areal yang semula kosong dan terbelakang. Timbullah perang antara Israel dan negara- negara Arab tetangganya. Namun karena para pemimpin Arab sebenarnya ada di bawah pengaruh Inggris, maka Israel mudah merebut daerah Arab Palestina yang telah ditetapkan PBB.
2 Desember 1948. Protes keras Liga Arab atas tindakan AS dan sekutunya berupa dorongan dan fasilitas yang mereka berikan bagi imigrasi zionis ke Palestina. Pada waktu itu, Ikhwanul Muslimin (IM) di bawah Hasan Al Banna mengirim 10.000 mujahidin untuk berjihad melawan Israel. Usaha ini kandas bukan karena mereka dikalahkan Israel namun karena Raja Farouk yang korup dari Mesir takut bahwa di dalam negeri IM bisa melakukan kudeta, akibatnya tokoh- tokoh IM dipenjara atau dihukum mati.
29 Oktober 1956. Israel dibantu Inggris dan Perancis menyerang Sinai untuk mengauasai Terusan Suez. Pada kurun waktu itu, militer di Yordania menawarkan baiat ke Hizbut tahrir (salah satu harakah Islam 0 untuk mendirikan kembali Khilafah. Akan tetapi Hizbut Tahrir menolak karena melihat rakyat belum siap.
1964 M. Para pemimpin Arab membentuk PLO ( Palestine Liberation Organization). Dengan terbentuknya PLO maka secara resmi nasib Palestina diserahkan ke pundak bangsa Arab- Palestina sendiri dan ridak lagi urusan umat Islam. Masalah Palestina direduksi menjadi persoalan nasional bangsa Palestina.
1967 M. Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria selama 6 hari dengan dalih pencegahan, Israel berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza ( Mesir ), dataran tinggi Golan ( Syria), Tepi Barat dan Yerusalem ( Yordania). Israel dengan mudah menghancurkan angkatan udara musuhnya karena dibantu informasi dari CIA ( Central Intelligence Agency) yang merupakan Badan Intelijen milik AS. Sementara itu angkatan udara Mesir ragu membalas serangan Israel karena Menteri Pertahanan Mesir ikut terbang dan memerintahkan untuk tidak melakukan tembakan selama dia berada di udara.
November 1967. DK PBB mengeluarkan Resolusi nomor 242 untuk perintah penarikan mundur Israel dari wilayah yang direbutnyadalam perang 6 hari, pengakuan semua negara di kawasan itu dan penyelesaian secara dil masalah pengungsi Palestina.
1969 M. Yasser Arafat dari faksi Al Fatah terpilih sebagai ketua Komite Eksekutif PLO dengan markas di Yordania.
1970 M. Berbagai pembajakan pesawat sebagai publikasi perjuangan rakyat Palestina membuat PLO dikecam oleh opini dunia dan Yordania pun dikucilkan. Karena ekonomi Yordania sangat tergantung dari AS, maka akhirnya Raja Husein mengusir markas PLO dari Yordania. Dan akhirnya PLO dipindah ke Libanon.
6 Oktober 1973. Mesir dan Syria menyerang pasukan Israel di Sinai dan dataran tinggi Golan pada hari puasanya Yahudi Yom Kippur. Pertempuran ini dikenal dengan Perang oktober. Mesir dan Syria hamper menang kalau Israel tidak tiba- tiba dibantu oleh AS. Presiden Mesir, Anwar Sadat, terpaksa berkompromi karena dia hanya siap untuk melawan Israel namun tidak siap berhadapan dengan AS. Arab membalas kekalahan itu dengan menutup keran minyak, sehingga harga minyak melonjak pesat.
22 Oktober 1973. DK PBB mengeluarkan Resolusi nomor 338 untuk gencatan senjata, pelaksanaan resolusi nomor 242 dan perundingan damai di Timur Tengah.
1977. pertimbangan ekonomi membuat Anwar Sadat pergi ke Israel tanpa konsultasi dengan Liga Arab. Ia menawarkan perdamaian jika Israel mengembalikan seluruh Sinai. Negara- negara Arab merasa dikhianati.
September 1978. Mesir dan Israel menandatangani perjanjian Camp David yang diprakarsai AS. Perjanjian itu menjanjikan otonomi terbatas kepada rakyat Palestina di wilayah- wilayah pendudukan Israel. Sadat dan PM Israel, Menachem Begin, dianugerahi Nobel Perdamaian 1979. Namun Israel menolak perundingan dengan PLO dan PLO menolak otonomi. Otonomi versi Camp David tidak pernah diwujudkan, begitu juga versi lainnya. AS sebagai pemrakarsanya pun tidak merasa wajib member sanksi, bahkan selalu memveto resolusi PBB yang tidak menguntungkan pihak Israel.
1980. Israel secara sepihak menyatakan bahwa mulai musim panas 1980 kota Yerusalem yang didudukinya itu resmi menjadi ibukotanya.
1982. Israel menyerang Libanon dan membantai ratusan pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Pelanggaran terhadap batas- batas internasional ini tidak berhasil dibawa ke forum PBB karena veto yang dilakukan lagi oleh AS. Israel dengan seenaknya melakukan serangkaian pemboman atas instalasi militer dan sipil di Irak, Lybia dan Tunis.
1987. Intifadhah, perlawanan dengan batu oleh orang- orang palestina yang tinggal di daerah pendudukan terhadap tentara Israel mulai meledak. Intifadhah ini diprakarsai oleh HAMAS, suatu harakah Islam yang memulai aktivitasnya dengan pendidikan dan social.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s