Masih Tentang RA Kartini

Bulan April ini para wanita Indonesia diingatkan kembali pada tokoh emansipasi wanita, RA Kartini. Tulisan ini bukan berarti menafikkan tokoh pejuang wanita lainnya, seperti Cut Nya Dien, Nyi Ahmad Dahlan, Nyi Ageng Serang, dll. Lain kali akan saya tulis tentang tokoh – tokoh tersebut.
Indonesia memang memiliki tokoh pejuang wanita yang banyak dan sangat berani menentang penjajah Belanda dan pendudukan Jepang. Di antara mereka ada yang berjuang melalui kontak fisik/ perang melawan penjajah dan ada pula yang berjuang melalui diplomatik/ tulisannya. RA Kartini termasuk pejuang wanita yang dikenal melalui tulisan- tulisannya yang ia buat untuk sahabat- sahabatnya di luar negeri.
RA Kartini yang lahir pada tanggal 21 April 1879 termasuk seorang puteri bangsawan. Ayah Kartini adalah RM Adipati Aryo Sosroningrat, bupati Jepara. Sosroningrat memiliki 2 isteri dan 11 anak. Isteri pertama( garwa padmi) Sosroningrat adalah R Ayu Wuryan, sedang isteri kedua (garwa selir/ ampil) adalah Mas Ajeng Ngasirah. Kartini termasuk puteri dari garwa selir/ ampil.
Setelah memasuki masa sekolah, Kartini dimasukkan ke Sekolah Kelas Dua Belanda. Di samping itu ia dan saudara- saudaranya mendapat pendidikan bahasa dan tatakrama Jawa dan mengaji Quran berikut pelajaran agama ( Kamajaya. 1982. 9 Srikandi Pahlawan Nasional. Yogyakarta: UP Indonesia Jogja, hal 58 ). Mereka mendapat pendidikan barat tapi tetap berpegang pada budaya Jawa. Mereka memiliki pandangan yang cukup luas, meski setelah usia 12 tahun Kartini dan saudara- saudara perempuannya harus dipingit.
Ketika menjalani masa pingitan tersebut, Kartini masih membaca buku karangan Multatuli, Minnebrieven ( Surat- surat Percintaan ). Dari buku tersebut Kartini mengetahui kondisi Indonesia yang tertindas dan pendidikan pun diabaikan oleh pemerintah Belanda. Akhirnya Kartini menulis curhat melalui surat untuk teman- temannya, seperti Estella Zeehandelaar, EC Abendanon, MCE Ovink- Soer, Prof. Dr. GK Anton dan nyonya, Nyonya HG de Booij- Boissevain, HH van Kol dan nyonya, Mr. JH Abendanon dan nyonya. Kemudian oleh JH Abendanon, surat- surat tersebut dikumpulkan dan dihimpun menjadi sebuah buku “ Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ia ( Kartini) sendiri menulis artikel dalam sebuah majalah yang berjudul “ Van een Vergeten hoekje” ( dari Sebuah pojok yang dilupakan ). ( Kamajaya: hal. 61 )
Tujuan yang diinginkan Kartini adalah wanita Indonesia bisa maju seperti wanita barat. Bukan berarti semua hal dari barat ditiru. Pendidikan barat baginya ( Kartini ) terutama adalah menambah pengetahuan sehingga orang barat dapat menghargai kepada bangsanya yang telah terdidik. Intinya hal- hal positif yang bisa mengangkat derajat bangsa-lah yang diambil, hal yang negatif ditinggalkan.
Kartini sempat berkeinginan belajar ke Belanda dan mengajukan beasiswa bersama adik- adiknya, Kardinah dan Rukmini. Ternyata Kardinah dan Rukmini terlebih dulu menemukan jodoh dan menikah sehingga tidak bisa belajar ke Belanda. Akhirnya Kartini pun menyatakan pada MR Abendanon bahwa ia pun tidak ingin lagi belajar ke Belanda. Kartini hanya ingin belajar di Jakarta. Pada perkembangannya, beasiswa belajar ke Belanda diusulkan Kartini agar dialihkan untuk Agus Salim.
Sambil menunggu waktu belajar di Jakarta, Kartini membuka sekolah gratis di Jepara. Sekolah ini untuk perempuan dan pelajarannya meliputi menjahit, bahasa Jawa, memasak dan menyulam. Kemudian pada 8 November 1903 Kartini menikah dengan bupati Rembang, Joyoadiningrat. Joyoadiningrat adalah duda dengan beberapa anak. Kartini sangat menyayangi anak- anak tiri dan anak didiknya. Mereka diasuh seperti anak sendiri dengan penuh kasih sayang. Sampai akhirnya Kartini melahirkan puteranya dan pada tanggal 17 September 1904 Kartini wafat. Jenazah Kartini dikebumikan di desa Bulu, selatan Rembang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s