Sejarah Perayaan Tahun Baru

Mungkin banyak di antara kita yang tidak mengetahui tentang asal mula perayaan tahun baru yang biasanya dirayakan dengan sangat meriah dan biasanya dilaksanakan pada malam penghujung tanggal 31 Desember.
Ternyata perayaan tahun baru berasal dari wilayah Romawi. Romawi pada prakteknya memang menyembah matahari. Penyembahan matahari disesuaikan dengan gerak peredaran matahari. Sebagaimana yang kita ketahui, Romawi terletak pada bagian bumi sebelah utara dan memiliki 4 musim.
Dalam perhitungan sains masa kini, pada musim dingin adalah pertanda “mati”nya matahari karena saat itumatahri bersembunyi atau bergerak kea rah wilayah bagian selatan khatulistiwa, sehingga Romawi jarang melihat matahari pada musim tersebut. Pada saat usim dingin, titik terjauh matahari terjadi sekitar tanggal 21- 22 Desember pada tiap tahunnya. Kemudian matahari bergerak lagi ke arah utara atau mendekati khatulistiwa pada tanggal 25 Desember. Matahari terus naik sampai benar- benar terasa sekitar 6 hari kemudian.
Oleh karenanya Romawi merayakan rangkaian “Kembainya Matahari” menyinari bumi sebagai perayaan terbesar. Dimulai dari perayaan Saturnalia (menyambut kembali dewa panen, 23 Desember ), kembalinya dewa matahari ( Sol Invictus, 25 Desember ) sampai tanggal 1- 5 Januari yaitu perayaan tahun baru ( matahari baru ).
Orang-orang Romawi merayakan Tahun Baru ini biasa dengan berjudi, mabuk-mabukan, bermain perempuan dan segala tindakan keji penuh nafsu kebinatangan diumbar di sana. Persis seperti yang terjadi pada saat ini.
Ketika Romawi menggunakan Kristen sebagai agama negara, maka terjadi akulturasi agama Kristen dengan agama pagan Romawi. Maka diadopsilah tanggal 25 Desember sebagai hari Natal, 1 Januari sebagai Tahun Baru dan Bahkan perayaan Paskah (Easter Day), dan banyak perayaan dan simbol serta ritual lain yang diadopsi.
Bahkan untuk membenarkan 1 Januari sebagai perayaan besar, Romawi menyatakan bahwa Yesus yang lahir pada tanggal 25 Desember menurut mereka disunat 6 hari setelahnya yaitu pada tanggal 1 Januari, maka perayaannya dikenal dengan nama ’Hari Raya Penyunatan Yesus’ (The Circumcision Feast of Jesus).
Nah dari uraian tadi, kita bisa mengambil sikap yang pantas atas tanggal 1 Januari, apakah akan berlebihan dalam merayakan ataukah tidak merayakan sama sekali.

Sumber bacaan : http://felixsiauw.com/home/dewa-matahari-di-perayaan-tahun-baru-pandangan-islam/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s