Perjanjian Linggarjati

Panglima Inggris berpendapat bahwa sengketa antara Indonesia dan Belanda tidak bisa selesai dengan senjata tapi harus dengan jalan diplomasi/ perundingan. Muncullah Perjanjian Linggarjati yang dilakukan antara Sutan Sahmi (dari pihak Indonesia ) dan Dr. H.J.Van Mook ( dari pihak Belanda ).
Isi Perjanjian Linggajati antara lain :
• Pemerintah Belanda mengakui keuasaan de facto Republik Indonesia atas Jawa, Madura dan Sumatera
• Pemerintah Indonesia dan Belanda akan mendirikan Negara Indonesia Serikat tanggal 1 Januari 1949
• Negara Indonesia Serikat dihubungkan dengan Belanda dalam suatu Uni Indonesia-Belanda.
Perjanjian ini ditandatangani tanggal 25 Maret 1947. Tetapi pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda mengkhianati Perjanjian Linggajati dengan melancarkan serangan ( Agresi Militer Belanda I ) serentak ke wilayah Republik Indonesia.
Aksi polisinil Belanda tersebut menimbulkan reaksi di luar negeri :
• 25 Juli 1947 di Australia para mahasiswa dan buruh berdemonstrasi ke kedutaan Belanda memprotes agresi militer Belanda kepada Republik Indonesia
• Pemerintah India tidak membenarkan tindakan agresi Belanda terhadap RI
• Di Pakistan, Muh. Ali Jinnah bersama 100 juta warga muslim menyalahkan tindakan Belanda
• JJ Singh memimpin gerakan India di Afrika Selatan memprotes tindakan Belanda
• Pemerintah Syria pada 27 Juli 1947 melakukan tindakan yang sama yang ditujukan kepada Dewan Keamanan PBB
Kemudian pada 4 Agustus 1947 PBB mengumumkan penghentian tembak menembak. Diikuti perundingan Indonesia- Belanda yang membahas pertikaian yang terjadi pada 14 Agustus 1947. PBB membentuk Komisi Konsuler ( Dr. Walter Foote ) untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata Indonesia- Belanda.
Pada akhirnya Belanda melanggar isi perjanjian Linggajati dengan perluasan wilayah. Pelanggaran tersebut dilaporkan kepada PBB. Kedua negara dipanggil oleh PBB di mana dalam kesempatan tersebut Indonesia tidak setuju dengan garis va Mook. Sebaliknya Belanda tetap ingin garis van Mook.
PBB kemudian membentuk Komisi Jasa Baik yang bersidang pada tanggal 6 September 1978. Komisi Tiga Negara ( KTN ) terdiri 3 negara yang mewakili Indonesia, Belanda, dan penengah.
KTN terdiri dari negara Australia ( Richard Kirby ) mewakili Indonesia. Belgia ( Paul van Zeeland ) wakil Belanda dan Amerika ( Dr. Frank B Graham ) sebagai penengah.
Langkah KTN dalam menyelesaikan pertikaian Indonesia- Belanda adalah mengadakan perundingan. Langkah pertama adalah mencari tempat perundingan. Perundingan dilaksanakan di atas kapal Renville.

Peristiwa yang terjadi terkait dengan hasil Perundingan Linggajati
( http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia_(1945%E2%80%931949) )
Pada bulan Februari dan Maret 1947 di Malang,SM Kartosoewiryo ditunjuk sebagai salah seorang dari lima anggota Masyumi dalam komite Eksekutif, yang terdiri dari 47 anggota untuk mengikuti sidang KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). Dalam sidang tersebut membahas apakah Persetujuan Linggarjati yang telah diparaf oleh Pemerintah Republik dan Belanda pada bulan November 1946 akan disetujui atau tidak. Kepergian S M Kartosoewirjo ini dikawal oleh para pejuang Hizbullah dari Jawa Barat, karena dalam rapat tersebut kemungkinan ada dua kubu yang bertarung pendapat sangat sengit, yakni antara sayap sosialis (diwakili melalui partai Pesindo), dengan pihak Nasionalis-Islam (diwakili lewat partai Masyumi dan PNI). Pihak sosialis ingin agar KNPI menyetujui naskah Linggarjati tersebut, sedang pihak Masyumi dan PNI cenderung ingin menolaknya. Ketika anggota KNIP yang anti Linggarjati benar-benar diancam gerilyawan Pesindo, Sutomo (Bung Tomo) meminta kepada S M Kartosoewirjo untuk mencegah pasukannya agar tidak menembaki satuan-satuan Pesindo.
DR H J Van Mook kepala Netherland Indies Civil Administration (NICA) yang kemudian diangkat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda, dengan gigih memecah RI yang tinggal 3 pulau ini Bahkan sebelum naskah itu ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947, ia telah memaksa terwujudnya Negara Indonesia Timur, dengan presiden Sukowati, lewat Konferensi Denpasar tanggal 18 – 24 Desember 1946.
Pada bulan tanggal 25 Maret 1947 hasil perjanjian Linggarjati ditandatangani di Batavia Partai Masyumi menentang hasil perjanjian tersebut, banyak unsur perjuang Republik Indonesia yang tak dapat menerima pemerintah Belanda merupakan kekuasaan berdaulat di seluruh Indonesia 29 Dengan seringnya pecah kekacauan, maka pada prakteknya perjanjian tersebut sangat sulit sekali untuk dilaksanakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s