Historiografi Indonesia

Menurut Ortega Y Gasset, masa lampau adalah prolog maka harus ada kesinambungan antara masa lampau dan masa sekarang. Kita bisa mngetahui masa lampau melalui membaca, pengalaman baik langsung maupun tak langsung.
Penulisan sejarah dari waktu ke waktu sangat relevan dengan masanya sendiri- sendiri. Sejarah perlu dituliskan agar peristiwa-peristiwa penting bisa tetap diingat dan menjadi pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik bahkan menjadi negara yang lebih baik dalam lingkup yang lebih luas.

Sebelum dikenal adanya tulisan ( masa pra-aksara/ pra-sejarah )
Sejarah masih dipenuhi dengan mitos. Mitos lebih banyak berfungsi sebagai pengganti sejarah. Padahal yang namanya sejarah dengan mitos tidaklah sama, bahkan sangat jauh berbeda. Dalam unsur sejarah, waktu kejadian jelas, kebenaran dapat dicek dan berlaku umum. Sedangkan mitos waktunya tidak jelas, belum tentu bisa dicek dan didukung oleh masyarakat tertentu.
Pada masyarakat sebelum dikenal tulisan ( pra-aksara) lebih mengarah pada oral tradition (tradisi lisan) yang disampaikan melalui penyampai cerita pada kesempatan tertentu, misalnya pada upacara inisiasi kehidupan. Yang banyak diceritakan adalah hero pada tokoh masyarakat tertentu, asal-usul keluarga. Biasanya oral tradition disampaikan secara vertikal, yaitu dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Masa sejarah
Pada masa ini sudah mulai dilakukan pencatatan meski masih sangat sederhana yang berisi genealogis (urutan silsilah), dll.

Historiografi Tradisional/ karya sastra tradisional
Hampir di seluruh wilayah Indonesia memiliki historiografi tradisional missal serat, babad, dll yang ditulis melalui daun lontar. Hanya saja penulisannya belum prosedural karena masih berbentuk puisi, pantun. Yang termuat dalam historiografi adalah cerita- cerita dalam oral tradition dan filsafat/ pandangan hidup. Akibat dari oral tradition maka kisah- kisah faktual suatu peristiwa menjadi kabur. Oral tradition yang dibuat oleh para pujangga memang terikat oleh penguasa dan situasi, sehingga karya mereka tidak bebas menuliskan kisah faktual. Tulisan pujangga tidak terpisahkan dari unsur kekuasaan.
Memasuki masa Hindu, pujangga menulis dengan pendekatan dewa raja sentris/ istana sentris mengingat fungsi dan peran pujangga adalah sebagai penulis sekaligus peramal bagi raja.
Kelemahan dari Historiorafi Tradisional adalah tidak ada kronologi peristiwa tetapi pendekatan sosial budayanya sangat tinggi.

Historiografi Kolonial
Ketika orang- orang Barat datang ke wilayah nusantara, otomatis mereka ingin diakui keberadaannya sehingga mereka melakukan penulisan peristiwa- peristiwa. Tetapi tulisan yang ditampilkan tidaklah mengisahkan para penduduk pribumi tapi hanya orang- orang Belanda di Hindia Belanda yang sangat berperan. Peran- peran bangsa barat saja yang digembar- gemborkan.
Penulis- penulis barat yang muncul antara lain Vlekke, Wertheim, Jacob Corneis van Leur. Vlekke menuliskan buku Nusantara secara Belanda sentries. Misalnya setelah masa pra aksara/ pra sejarah, Hindu Budha langsung masuk ke mas kedatangan bangsa barat. Padahal seharusnya masih ada masa islam di Indonesia.
Wertheim melakukan protes atas periodisasi tadi tapi ulisannya masih menggunakan sumber- sumber dari Belanda. Isi tulisan masih menampilkan otoritas orang barat, visinya pun masih Eropa sentries/ Netherland Sentris meski fakta yang disajikan sudah cukup akurat.
Van Leur yang pernah belajar Indologi ( Indonesian Studies ) menulis desertasi dengan judul On Early Asian trade.Van Leur berpendapat bahwa sejarah bukan hanya suatu kronologi fakta tapi lebih pada tipologi. Dia berpendapat bahwa sejarah ekonomi setara dengan sejarah politik, kemudian mengelompokkan kelompok-kelompok ekonomi di Asia Barat, studi sejarah Indonesia censerun menggunakan kacamata Eropa,serta membedakan ilmu alam dan ilmu humaniora.

Historiografi Masa Revolusi
Masa revolusi berlangsung sekitar tahun 1945- 1957 ), informasi tentang sejarah cukup banyak. Setelah sebelumnya, selama masa Jepang menduduki Indonesia, tidak ditemukan karya sejarah.
Hanya saja penulisan sejarah pada masa revolusi sempat terganggu dengan adanya peristiwa misalnya kembalinya Belanda di Indonesia, Agresi Militer Belanda, dll
Penulis yang muncul pada masa ini antara lain Adam Malik dan ahmad Subardjo yan menulis sekitar peristiwa Proklamasi.
Tulisan yang muncul pada masa ini tidak lepas dari situasi dan kondisi yang ada, biasanya bertema perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Bentuk penyampaiannya adalah biografi yang merupakan wujud penghargaan terhadap tokoh pahlawan.
Penulisan sejarah tahun 1950-an mulai merubah visi yang semula visi Belanda menjadi visi Indonesia.
Pada tahun 1957 diadakan Seminar Sejarah nasional I yang merupakan usaha untuk meng-Indonesiakan sejarah Indonesia dari tulisan- tulisan Belanda.
Tahun 1970-an berhasil disusun Sejarah nasional Indonesia sebanyak 6 jilid yan mulai menyeimbangkan visi ( mengunakan metode ilmiah). Kemudian ada Seminar sejarah Nasional II tahun 1970 yan memunculkan trend- trend pedesaan. Muncullah Taufik Abdullah, Sartono Kartodirdjo, dll.
Pendekatan penulisan lebih bervariasi meliputi sejarah social budaya dan sejarah politik.

Catatan : sumber tulisan adalah materi kuliah mata kulih Historiografi pada jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNY, tahun 2002.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s