Perkembangan Teori Politik Islam

Tulisan bersumber dari mata kuliah Sejarah Islam semester III Pendidikan Sejarah UNY yang diampu bapak Ajat Sudrajat

Ketika Nabi Muhammad SAW masih berada di kota Mekkah, beliau hanya memegang otoritas spiritual, artinya memegang otoritas kenabian/ sebagai kepala agama. Tetapi setelah periode Madinah, Nabi Muhammad sudah memiliki otoritas spiritual dan temporal sekaligus. Otoritas temporal artinya kepala negara ( keduniawian ). Hal ini berlangsung sampai Nabi Muhammad SAW meninggal dunia.
Sepeninggal Nabi, dalam dunia Islam terjadi proses pergantian Khalifah. Khalifah berkedudukan sebagai pemimpin negara dan pemimpin agama, bukan sebagai nabi.
a. Khalifah Abu Bakar dipilih melalui permufakatan sekelompok kecil dari golongan Anshar dan Muhajirin.
b. Khalifah Umar bin Khattab menjadi khalifah melaui wasiat Abu Bakar.
c. Khalifah Utsman bin Affan menjadi khalifah melalui kesepakatan sejumlah kecil sahabat yang ditunjuk Umar bin Khattab.
d. Khalifah Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah melalui bai’at beberapa orang sahabat yang sebelumnya terlibat dalam pengangkatan Utsman/ ahli Badr.
e. Khalifah- khalifah dalam dunia Islam yang selanjutnya bersifat monarkhial(keturunan) Bani Umayah, Abbasiyah, Utsmaniyah, Safawiyah dan Mughal Dast.

Dalam menentukan imamah/ pemimpin Islam terdapat beberapa perbedaan. Menurut Ahlussunah wal jamaah, imam itu hendaknya berasal dari suku Quraisy( al aimmatu min quraisyin). Dalam prose pergantiannya tidak pasti tetapi dalam prakteknya berdasarkan keturunan.
Menurut Khawarij, imam tidak harus dari suku Quraisy dan orang Arab, setiap muslim berhak atas kedudukan khalifah/ imam. Proses pergantiannya tidak secara turun temurun.
Menurut Syiah, jabatan khalifah atau imam bukanlah hak tiap orang Islam. Jabatan khalifah adalah monopoli dari keluarga Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Syiah Zaidiyah mengkategorikan imam ke dalam imam al afdlal dan imam mafdlul.
Imam al afdlal adalah kepemimpinan yang diambil dari keturunan Ali dan Fatimah. Sedangkan imam mafdlul adalah kepemimpinan di luar keturunan Ali dan Fatimah.

Kemudian para tokoh banyak yang mengemukakan persyaratan menjadi khalifah.
1. Ibn Abi Rabi’ dalam kitab Suluk al Malik fi tadbir al mamalik, syarat menjadi khalifah antara lain harus anggota keluarga kerajaan, aspirasi yang luhur, pandagan yang mantap dan kokoh, ketahanan dalam menhadapi kesukaran, kekayaan yang besar dan pembantu yang setia.
2. Ibn Taimiyah dalam kitab Al Siyasah al syariah fi ishlah al ra’i wa al ra’iyah, seorang khalifah haruslah amanat dan harus mengangkat para pejabat yang amanat ( QS An Nisa 58-19)
3. Ibn Khaldun dalam kitab Muqaddimah, untuk menjadi seorang khalifah harus berpengetahuan luas, bersikap adil, memiliki kemampuan, sehat badan serta utuh panca inderanya dan keturunan Quraisy.
Tentunya masih banyak lagi para tokoh yang mengemukakan syarat-syarat pemimpin Islam/khalifah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s