DARUL ISLAM (BUKAN) SEBUAH PEMBERONTAKAN ?

Karya ini merupakan makalah tugas kelompok  pada mata kuliah Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia yang diampu Prof. Dr. Husein Haikal, MA. pada tahun 2003 jurusan Pend. Sejarah FIS UNY. Anggota kelompok terdiri dari Rudi Hananto, Suprihatin, Zahrotul Mujahidah, Ma’rifatul Mujahidah dan Jaka Pitaya. Makalah ini sudah kami edit lagi. Setelah membaca makalah ini, para pembaca bisa menarik kesimpulan mengenai tokoh SM Kartosoewirjo.

Pendahuluan

Soekarno, Semaun dan Kartosoewirjo adalah orang- orang yang populer di dunianya masing- masing. Mungkin tidak sedikit yang menyangka bahwa mereka dahulu pernah ngenger ( kos) di rumah Tjokroaminoto, mengingat perbedaan faham dan ideologi yang mereka anut. Soekarno adalah seorang nasionalis-sekuler yang sangat mengagumi Mustoafa Kamal At Tatturk. Sementara Semaun adalah seorang komunis sejati, murid langsung dari Snevliet, pembawa dan perintis komunisme di Indonesia. Kartosoewirjo tidak lain adalah proklamator Negara Islam Indonesia, seorang yang dianggap radikal.

Sekarmadji Marijan Kartosoewirjo, demikian nama lengkap Kartosoewirjo, yang dilahirkan pada tanggal 7 Jaunari 1905 di Cepu, sebuah kota kecil antara Blora dan Bojonegoro yang menjadi perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.[1] Setelah menamatkan ELS di kotanya, Kartosoewirjo melanjutkan studinya di Surabaya, masuk pada Sekolah Kedokteran untuk Pribumi. Di sinilah Kartosoewirjo mulai belajar politik dan berorganisasi sebab ia tinggal di rumah HOS Cokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam.

Dari murid- murid Cokroaminoto, Kartosoewirjolah yang paling setia mengikuti langkah sang guru. Terbukti ketika terjadi kemelut di tubuh Partai Sarekat Islam Indonesia pada tahun 1930an dikarenakan kebijakan hijrah partai yang menyebabkan dipecatnya Dr. Soekiman Wirjosanjoyo dan kawan- kawan. Soekiman tidak setuju dengan kebijakan hijarah yang diartikan sebagai sikap non-kooperatif yang akan semakin memperburuk citra par tai di depan pemerintah. Sebaliknya Kartosoewirjo sangat mendukund kebijakan hijrah ini. Seperti yang ia jelaskan dalam kongres ke-24 PSII pada tanggal 30 Juli sampai 7 Agustus 1937.

“…bahwa ‘hijrah’ yang jadi sikap partai itu haruslah jangan diartikan sama dengan non-kooperatif yang diadakan partai-partai lain terhadap pemerintah. Sikap non-kooperasi itu adalah sikap yang negatif; sikap ‘hijrah’ itu adalah sikap positif dan membangun. Sebab hijrah itu sesungguhnya suatu sikap penolakan akan tetapi di samping itu dijalankan usaha dengan sekua- kuatnya untuk membentuk kekuatan hebat yang menuju kepada Darul Islam.”[2] Sikap hijrah inilah yang menjadikan Kartosoewirjo tidak mau bergabung kembali ke dalam Republik Indonesia.

Proklamasi 7 Agustus 1949

Bulan Mei 1947 Belanda sudah memutuskan untuk mengkhianati persetujuan Linggarjati yang mengakui secara de facto wilayah RI atas Sumatera, jawa dan Madura dengan menyerang Republik secara langsung. Maka pada tanggal 20 Juli 1947 tengah malam pihak Belanda melancarkan aksi polisinil mereka yang pertama. Pasukan- pasukan bergerak dari Jakarta dan Bandung untuk menduduki Jawa Barat ( tidak termasuk Banten ) dan dari Surabaya untuk menduduki Madura dan Ujujng Timur.[3]

Aksi polisinil Belanda dikecam oleh sekutu- sekutunya terutama Amerika dan Inggris yang segera mendesak PBB untuk menangani masalah ini. Maka pada akhir bulan Juli belanda mengumumkan suatu gencatan senjata dan menyetujui adanya sebuah perundingan antara pihak Republik dan Belanda. Dan pada bulan Januari 1948 tercapailah satu persetujuan baru di atas kapal Amerika USS Renville di pelabuhan Jakarta. Persetujuan ini mengakui suatu gencatan senjata di sepanjang apa yang disebut sebagai garis van Mook . persetujuan ini juga menyetujui bahwa seluruh pasukan Republik harus ditarik mundur dari garis van Mook. Maka Kolonel Nasution memimpin 22.000 prajurit Siliwangi keluar dari Jawa Barat yang dikuasai Belanda menuju Jawa Tengah yang dikuasai Republik pada bulan Februari 1948.[4]

Mengenai persetujuan Renville ini SM Kartosoewirjo berkomentar bahwa “ Amir Sjarifoedin la’natullah telah menjual Jawa Barat kepada Belanda dan mengangkut semua sejata ke wilayah Republik supaya umat islam khususnya rakyat Jawa Barat tidak dapat menadakan perlawanan terhadap Belanda”.[5]

Kekosongan kekuasaan di Jawa Barat dimanfaatkan oleh Kartosoewirjo untuk mengkonsolidasikan satuan- satuan Hizbullah dan Sabilillah untuk tidak meninggalkan Jawa Barat dan terus berjihad menghadapi Belanda. Maka pada tanggal 10- 11 Januari di desa Pangwedusan distrik Cisayong diadakan suatu konferensi yang dihadiri oleh para pemimpin organisasi Islam daerah Periangan. Hadir dalam konferensi itu wakil- wakil dari Masyumi, GPII, DPOI dan MPOI. Keputusan penting dari konferensi Cisayong adalah dibentuknys suatu Tentara Islam Indonesia (TII) dan didaulatnya SM Kartosoewirjo sebagai imam.[6]

Pada tanggal 14 Desember 1948 Belanda mengadakan aksi polisinilnya yang kedua. Kota Yogyakarta dapat diduduki Belanda, Soekarno dan Moh Hatta ditangkap dan diasingkan ke Prapat dan Bangka. Kartosoewirjo memandang bahwa rezim Republik telah berakhir dan saat yang tepatlah untuk memproklamirkan Negara Islam Indonesia. Namun ia masih tetap mencoba untuk memperoleh pimpinan komando tertinggi secara legal. Dan Kartosoewirjo sendiri telah menyatakan bahwa perjuangannya adalah lanjutan dari Proklamasi 17 Agustus 1945. Dan dia berharap Negara Islam Indoensia yang ia bentuk akhirnya akan dilegalisir meskipun tanpa proklamasi.[7]

Aksi militer Belanda kedua dianggap telah melanggar persetujuan Renville  maka kini pimpinan tentara tidak lagi terikat dengan persetujuan itu. Divisi Siliwangi mengadakan long march kembali ke Jawa Barat yang disambut dengan meriah. TII mencoba mengajak mereka untuk bersama-sama menghadapi ancaman Belanda dan negara bonekanya yaitu Negara Pasundan. Niat baik TII tidak ditanggapi oleh TNI. Maka pada tanggal 25 Januari 1949 terjadilah pertikaian antara TII dan TNI di Antarlina. Kejadian ini sekaligus menjadi awal pertikaian antara TII, TNI dan Belanda yang oleh Kartosoewirjo disebut sebagai “Perang Segitiga Pertama di Indonesia”.[8]

Pada tanggal 1 Agustus 1949 Moh Hatta berangkat ke Den Haag untuk menghadiri Konferensi Meja Bundar yang dimulai 12 hari kemudian. Kejadian ini bagi Kartosoewirjo merupakan pertanda untuk bertindak, karena keberangkatan Hatta ke Holland baginya kini terdapat vakum kekuasaan. Setelah mengadakan musyawarah dengan Dewan Imamah dan semua unsur yang terkait dengan TII maka dengan kebulatan tekad bersama diproklamasikanlah berdirinya Negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1949 di kampung Cisampang, desa Cidugaleuin kecamatan Leuwisari Tasikmalaya. Ditandatangani oleh Kartosoewirjo sendiri atas nama Umat Islam Bangsa Indonesia.[9]

Untuk menumpas gerakan sahabatnya itu, Bung Karno kemudian mengirimkan tentara dari Divisi Siliwangi dan satuan-satuan lain. Kartosoewirjo akhirnya berhasil ditangkap di Gunung Geber, Jawa Barat, pada 4 Juni 1962 dan dieksekusi mati tiga bulan kemudian.

Eksekusi mati terhadap Kartosoewirjo dilakukan pada September 1962 atas persetujuan Presiden Soekarno. Saat itu Bung Karno mengaku keputusan untuk menandatangani eksekusi mati itu merupakan salah satu hal terberat dalam hidupnya. Bahkan Soekarno sering menyingkirkan berkas eksekusi terhadap sahabat lamanya itu. “Di tahun 1918 ia adalah seorang sahabatku yang baik. Kami bekerja bahu membahu bersama Pak Tjokro demi kejayaan Tanah Air. Di tahun 20-an di Bandung kami tinggal bersama, makan bersama dan bermimpi bersama-sama. Tetapi ketika aku bergerak dengan landasan kebangsaan, dia berjuang semata-mata menurut azas agama Islam,” kata Soekarno dalam buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat’ Karya Cindy Adams, Terbitan Media Pressido.[10]


[1] Al Chaidar. 1999. Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia SM Kartosoewirjo. Jakarta : Darul Falah, hlm. 14.

[2] AK Pringgodigdo. 1984. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta : Dian Rakyat, hlm. 130.

[3] MC Ricklefs. 1995. Sejarah Indonesia Modern. A.b. Dharmono Hardjowidjono. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

[4] Ibid., hlm. 338-342

[5] Al Chaidar. Op.cit., hlm. 72.

[6] Ibid., hlm. 72-74.

[7] Ibid., hlm. 83- 84.

[8]Ibid.

[9] Ibid., hlm. 101-102

[10] Dikutip dari Merdeka.com. dalam judul Kisah Soekarno Teken Persetujuan Eksekusi Mati Sahabat Karib. Posted 6 September 2012

2 pemikiran pada “DARUL ISLAM (BUKAN) SEBUAH PEMBERONTAKAN ?

  1. Bagus juga artikelnya broo..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s