KIPRAH HOS COKROAMINOTO DALAM PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

hos cokroaminoto

Kebesaran Sarekat Islam dan keberhasilannya dalam menarik simpati rakyat, antara lain dipengaruhi oleh pemikiran HOS Tjokroaminoto. Meski cepatnya perkembangan Sarekat Islam juga diikuti dengan cepatnya kemunduran. Berkurangnya pengaruh organisasi dan timbulnya pertentangan intern menyebabkan mengendurnya simpati massa.[1] Ajib Rosidi mengatakan, banyak konsep- konsep dasar dan dasar- dasar pemikiran yang sekarang kita kenal sebagai milik orang lain, masih dapat kita kembalikan kepada Cokro sebagai sumbernya.[2] Pemikiran Kartosoewiryo tentang pergerakan Negara Islam Indonesia dipengaruhi oleh pemikiran Cokroaminoto.

A.   MASA KECIL HOS COKROAMINOTO

Tjokroaminoto lahir pada tanggal 16 Agustus 1882, bertepatan dengan meletusnya Gunung Krakatau sehingga ia lebih dimitoskan oleh pengikutnya. Paham messianic memang berkembang di tanah Jawa.

The religious practices of popular Islam in rural Java have always been full of non-Islamic elements- mysticism magic and the pattern of an earlier custom which it had absorbed- but this elements did not weaken its religious character.[3]

Cokroaminoto adalah putra dari Tjokroamiseno, seorang wedana di Kloco, Madiun. Kakeknya seorang bupati Ponor ogo bernama Tjokronegoro anak dari Kyai Hasan Basri, pengasuh Pesantren Tegalsari, Ponorogo, yang beristerikan seorang putri dari Susuhunan II Surakarta.[4]

Cokroaminoto mendapat pendidikan model barat sebagaimana lazimnya anak priyayi. Dia sering pindah sekolah. Kemudian pada tahun 1902 dia menyelesaikan sekolahnya di OSVIA Magelang sehingga dengan bekal ini Cokroaminoto menjadi Juru Tulis di Kepatihan Ngawi. Tiga tahun kemudian pekerjaan itu ditinggalkan dan bekerja di Surabaya yaitu di Firma Cooy and Co sambil melanjutkan studinya di Burgalijke Avvend School Afdeeling Wertuigkundige.

Setelah tamat sekolah, dia bekerja menjadi Leerning Mechinist, kemudian menjadi Chamicher di pabrik gula di dekat kota Surabaya. Dia juga sibuk dalam organisasi pemuda Indonesia dan sekaligus menjadi ketua cabang Syarikat Islam (SI) Jawa Timur (1911- 1913). Meski mendapat pendidikan barat namun Cokroaminoto tetap berpegang pada agama Islam dan kebudayaan Jawa

B.    PERJUANGAN HOS COKROAMINOTO

Cokroaminoto adalah tokoh nasional yang memiliki kemampuan yang pada hakikatnya sulit dilakukan, yaitu aktivitas intelektual sebagai pemikir kenegaraan dan kemasyarakatan dan aktivitas lapangan sebagai tokoh dalam pergerakan bangsanya.

Kegiatan intelektualnya berawal dari tulisan- tulisan yang dimuat dalam surat kabar dan percakapan- percakapan akademis yang diadakan di rumahnya. Tokoh yang pernah tinggal di rumahnya antara lain Soekarno, Semaun dan Kartosoewiryo. Mereka memiliki perbedaan pandangan tentang kehidupan bernegara. Soekarno lebih dikenal sebagai nasionalis, Semaun dan Kartosoewiryo dikenal sebagai tokoh “kiri”. Hanya saja Kartosoewiryo  ingin membentuk negara berdasar syarikat Islam, sedang Semaun bertujuan membentuk negara berpaham sosialis.  Pandangan Kartosoewiryo banyak dipengaruhi pemikiran Cokroaminoto.

Tulisan- tulisan Cokroaminoto di berbagai surat kabar dibaca oleh tokoh SDI dan mengantarkannya menjadi ketua cabang SI Jawa Timur. Tercatat Cokroaminoto pernah menulis di surat kabar Utusan Hindia, Fadjar Asia dan majalah Al Jihad serta menjadi pembantu istimewa dalam Suara Surabaya.

Kemudian dia menyusun anggaran dasar baru SI dalam akta notaris tertanggal 10 September 1912 dan diajukan kepada pemerintah kolonial untuk disahkan menjadi badan hukum. Tanggal 26 Januari 1913 SI mengadakan Kongres di Surabaya. Cokroaminoto berpidato menegaskan bahwa SI menghidupkan jiwa dagang asing dengan mendirikan koperasi. Yang diperhatikan SI bukan hanya kalangan pedagang tapi juga petani. The SI save to the peasants the means of actualising their potential force through its ideology, leadership, organization and symbols.[5] Meski lebih menitikberatkan pada masalah ekonomi, SI merupakan gerakan nasionalis. Bahkan ada yang menganggap sebagai proto nastionalist. Sarekat Islam has sometimes been describes as a “proto nationalist” rather than a “ nationalist movement”.[6]

Anggaran dasar yang diajukan Cokroaminoto ditolak. Pada  30 Juli 1913 Gubjen Idenburg  menetapkan penolakan SI sebagai badan hukum, tapi cabang- cabangnya dapat diakui sebagai badan hukum. Akibatnya SI Pusat tidak bisa mengontrol SI lokal. Antara SI lokal dan SI Pusat tidak memiliki persamaan cara untuk menghadapi kolonialisme. Di tahun- tahun berikutnya SI lokal banyak yang melakukan huru hara yang berdampak pada penangkapan Cokroaminoto. Jika dikaji lebih dalam, huru hara yang terjadi tersebut merupakan akibat dari penyusupan- penyusupan dari pihak ISDV.

Kongres II dilaksanakan di Yogyakarta pada tanggal 18- 20 April 1914 yang menghasilkan pembentukan CSI,  menetapkan anggaran dasar CSI dan Cokroaminoto sebagai ketua CSI. Tahun berikutnya 13 Maret 1915 anggaran dasar CSI memperoleh pengesahan dari pemerintah kolonial.

Dalam kongres CSI secara nasional Cokroaminoto menekankan adanya kesadaran dan kebebasan Indonesia dari penjajahan asing. Ia menegaskan, “ tidak boleh terjadi lagi bahwa perundang-undangan untuk kita, bahwa kita diperintah tanpa kitadan tanpa ikut serta dari kita”[7].

Yang tidak bisa dilupakan dari tokoh ini adalah ketika dia menjabat sebagai anggota Dewan Rakyat. Ia dan kawan- kawan mengajukan mosi kepada pemerintah kolonial karena Dewan Rakyat tidak sesuai dengan keinginan, rakyat dan para pemimpin pergerakan. Mosi yang kemudan dkenal dengan Mosi Cokroaminoto berisi: hak pilih sepenuhnya harus diakui pada rakyat, badan perwakilan mempunyai hak legislatif penuh dan parlemen mempunyai kekuasaan tertinggi terhadap siapa pemerintah harus bertanggungjawab.

Pada tahun- tahun berikutnya ada kemelut di kalangan organisasi islam dan organisasi lain. Disamping itu dalam SI terjadi perpecahan akibat pergerakan oleh tokoh- tokoh komunis. Pergerakan dan penyusupan- penyusupan tersebut membawa dampak pada gerakan SI lokal yang lebih radikal dengan melakukan huru hara seperti yang telah diuraikan sebelumnya.

Pengaruh sosialis-komunis yang masuk ke tubuh SI Pusat maupun cabang-cabangnya, setelah aliran itu memiliki wadah ISDV. Gejala- gejala perpecahan semakin jelas dan dua aliran tersebut tidak dapat disatukan. Terdapat dua aliran SI yaitu SI yang berasaskan kebangsaan-keagamaan berpusat di Yogyakarta dan SI yang berasas komunis berpusat di Semarang.[8]

Sesudah wafatnya Cokroaminoto pada tahun 1934 SI mengalami perpecahan yang sulit disembuhkan. Pecahan penting adalah lahirnya Partai Islam Indonesia (PII) pada 1937 di bawah pimpinan Dr. Sukiman Wirjo Sandjojo.[9] PII diperkuat juga oleh Moh. Natsir, Abdul Kahar Muzakkir. Selain PII juga muncul partai penyadar yang dipimpin H. Agus Salim dan Moh. Roem. Setelah kemerdekaan, bekas tokoh pecahan SI inilah yang umumnya menguasai partai Masyumi ( Majelis Syura Muslimin Indonesia), suatu partai yang dibentuk bulan November 1945 melalui Kongres Umat Islam di Yogyakarta.[10]

C.    PEMIKIRAN HOS COKROAMINOTO TENTANG KENEGARAAN

HOS Cokroaminoto adalah seorang yang terkenal dengan kharismanya karena sikapnya yang memusuhi orang- orang yang memegang kekuasaan baik yang berkebangsaan Belanda maupun Indonesia dan dengan cepat menjadi pemimpin yang paling terkemuka dari gerakan rakyat yang pertama itu.[11] Cokroaminoto sangat kritis terhadap penderitaan rakyat akibat penjajahan. Cokroaminoto menebarkan aroma demokrasi pada masa kolonial, di mana dia menegaskan bahwa pemerintah di nusantara harus dipegang dari, oleh dan untuk rakyat. Perundang- undangan Indonesia harus dibuat dan disepakati oleh rakyat. Dalam hal ini Cokroaminoto kemudian mengajukan mosi kepada pemerintah kolonial. Mosi ini menuntut hak pilih dari rakyat secara penuh, badan perwakilan mempunyai hak legislatif dan pemerintah harus bertanggungjawab kepada parlemen.

Kemerdekaan bangsa Indonesia harus dicapai, tapi kemerdekaan bukan tujuan akhir perjuangan bangsa. Kemerdekaan merupakan syarat/ jembatan untuk mecapai cita- cita yang lebih tinggi dan mulia yaitu kemerdekaan dan berlakunya agama Islam di tanah air Indonesia dalam arti seluas- luasnya dan sebenar- benarnya. Sebuah negara Islam merdeka dengan mencontoh negara Madinah adalah di antara harapan Cokroaminoto bagi Indonesia pada waktu itu.[12]

Pandangan Cokroaminoto tentang kebangsaan sebagai berikut, “ Islam itulah cita- cita kita yang tertinggi, sedangkan nasionalisme dan patriotisme itu ialah tanda- tanda hidup. kita sanggup akan melakukan Islam dengan seluas- luasnya dan sepenuh-penuhnya. Pertama- tama adalah kita muslim, dan di dalam kemusliman itu adalah kita nasionalis dan patriot, yang menuju kemerdekaan negeri, tumpah darah kita. Tidak Cuma dengan perkataan- perkataan yang hebat dalam vergadering saja, tetapi pada tiap- tiap saat bersedia juga menjadikan korban sejalan apa yang ada pada kita untuk mencari kemerdekaan negeri tumpah darah kita”.[13] Pemikiran- pemikiran Cokroaminoto inilah yang kemudian banyak mempengaruhi sikap, tindakan dan orientasi Kartosoewirjo[14] dalam  menegakkan Negara Islam Indonesia.

Sedang konsepsi kemasyarakatan dan kenegaraan dapat ditemukan dalam buku Islam Sosialisme. Buku tersebut ditulis berdasarkan literatur- literatur yang ditulis para pemimpin Islam di India dan pemikiran- pemikiran dari barat. Menurut Cokroaminoto, seorang muslim sejati harus menjadi sosialis dan demokrat sekaligus. Ia menolak historis materialisme dan kapitalisme. Islam menolak faham historis materialisme  karena faham ini berpendapat bahwa segala sesuatu berasal dari benda, untuk benda dan kembali pada benda.[15] Hal ini bertentangan dengan Islam karena dalam ajaran Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu akan kembali kepada Sang Khalik karena ia berasal dariNya. Sedang faham kapitalisme mementingkan individu, kebebasan dalam mencari keuntungan tanpa menghiraukan segi sosial dan kemanusiaan. Lebih tegasnya masyarakat yang ideal dalam konsep Cokroaminoto adalah masyarakat sosialis yang religius.

Sedang konsepsi tentang kenegaraan adalah pemerintah yang bersendikan demokrasi murni dan musyawarah. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan Cokroaminoto. Pringgodigdo kemudian menyebut organisasi SI sebagai suatu gerakan nasionalistis-demokratis-religius-ekonomis karena pengaruh pemikiran Cokroaminoto. Bahkan seorang anggota CSI mengeluh karena Cokroaminoto terlalu banyak bertindak berdasar pandangan sendiri dan sedikit bermusyawarah dengan pengurus lainnya.[16]


[1] Suhartono. 1994. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908- 1945. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, hlm. 33.

[2][2] M. Masyhur Amin. 1978. Saham HOS Tjokroaminoto dalam Kebangunan Islam dan Nasionalisme di Indonesia. Yogyakarta : NurCahaya, hlm. 25.

[3] Sartono Kartodirdjo. 1978. Protest Movement in Rural Java. Kualalumpur : Oxford University Press, hlm. 69.

[4] Masyhur Amin. Opcit., hlm. 26.

[5] Kartodirdjo. Opcit., hlm. 143.

[6] Ibid., hlm. 145.

[7] Masyhur Amin., opcit., hlm. 32.

[8] Suhartono. Opcit., hlm. 37.

[9] Ahmad Syafii Maarif. 1985. Islam dan Masalah Negara. Jakarta : LP3ES, hlm. 91.

[10]Ibid., hlm. 92.

[11] Al Chaidar. 1999. Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia SM Kartosoewirjo. Jakarta : Darul Falah, hlm. 21.

[12] Ahmad Syafii Maarif. Loc.cit., hlm. 80.

[13] Al Chaidar. Op.cit., hlm. 39.

[14] Ibid., hlm. 29.

[15] Masyhur Amin. Op.cit., hlm. 36.

[16][16] APE Korver. 1985. Sarekat Islam : Gerakan Ratu Adil ?. Jakarta : Grafiti Press, hlm. 238

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s